home

Sabtu, 23 Juni 2012

Palito Inuman

 


Randai Kuantan


Gesekan Piual—Biola, hentakan pukulan Gondang dan tiupan lapri (Serunai), diiringi langkah tari merupsakan ciri khas tersendiri dari Randai Kuantan. Salah satu bentuk kesenian rakyat tradisional Kabupaten Kuantan Singingi. Randai Kuantan merupakan kesenian rakyat yang komunikatif, lahir dan berkembang di tengah-tengah masyarakat Kuantan. Randai Kuantan membawakan suatu cedrita yang sudah disusun sedemikian rupa dengan dialog dan pantun logat Melayu Kuantan, disertai lagu-lagu Melayu Kuantan sebagai paningkah babak-babak cerita.

Memang suatu pertunjukan kesenia rakyat yang membuat kita pun ingin ikut bergoyang melihatnya, bahkan mengelitik hati. Tak urung gelak tawa pun akan keluar dengan seketika. Cerita yang dibawakan biasanya sudah melekat di hati orang Rantau Kuantan, sehingga randai sudah begitu akrab di tengah-tengah masyarakat.

Tak di ketahui secara pasti, kapan randai mulai ada di daerah ini. Tetapi apabila menilik dari sejarah, maka randai ini telah ada semenjak zaman penjajahan Belanda dulu. Randai di pergerlarkan dalam acara pesta perkawinan, sunatan, doa padang, kenduri kampung dan acara lainnya yagn di anggap perlu untuk menampilkan Randai.

Biasnya dilaksanakan pada malam hari, memakan waktu 2 hingga 4 jam. Disinilah orang sekampung mendapat hiburan dan bisa bertemu dengan kawan-kawan dari lain desa.
Berhasilnya sebuah pertunjukan tidak terlepas dari peran serta pemain, pemusik dan penontonnya. Untuk sebuayh ceriata yang akan dibawakan biasanya memakan waktu latihan sekitar satu bulan atau lebih. Memang waktu latihannya tidak setiap hari, rutinnya hanya pada malam Ahad.

Tetapi apabila akan mengadakan pertunjukan maka waktu latihannya akan ditambah sesuai dengan kesepakatan bersama. Dengan jumlah anggota 15 sampai 30 orang untuk satu tim randai, terdiri dari penari, pemusik, dan tokoh dalam cerita. Jumlah tokoh tergantung cerita yang dibawakan. Biasanya jumlah pemusik tetap. Satu Piual, 2-3 gendang, satu peniup lapri.
Keunikan randai memang mempunyai daya tarik tersendiri dibandingkan denga kesenia rakyat lainnya yang hidup di Rantau Kuantan. Antara lain adalah, adanya tokoh wanita di perankan oleh laki-laki yang berpakaian wanita, dan sindiran-sindiran terhadap pejabat dalam bentuk pantun.
Tokoh wanita yang diperankan laki-laki ini dimaksudkan untuk menjaga adat dan norma-norma Agama. Karena latihan pada malam hari dan pertunjukan juga pada malam hari, sehingga kalau ada anak dara yang tampil ini merupakan suatu yang tabu bagi masyarakat. Selain itu juga untuk menjaga supaya hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi.

Sewaktu pementasan para Anak Randai membentuk lingkaran dan menari sambil mengelilingi lingkaran, sehingga pemain tidask berkesan berserakan dan terlihat rapi. Menyaksikan Randai Kuantan kita akan terbuai dan merasakan suasana kehidupan desa. Bermain, kebun karet, bergurau, bersorak sorai serta berbincang, tentu dengan lidah pelat Melayu Kuantan. Sehingga perantau yang pulang kampung ke Rantau Kuantan tak pernah melawatkan pertunjukan ini.
Untuk menyaksikan pertunjukan Randai Kuantan bukanlah hal yang sulit, karena Randai Kuantan sampai saat ini tetap banyak didapatkan di Rantau Kuantan, bahkan pada saat ini hampir setiap desa mempunyai kelompok randai.

Sebuah kelompok Randai juga mempunyai sutradara yang mengatur jalan cerita sebuah pertunjukan randai. Sutradara atau peramu cerita harus mempunyai wawasan yang luas terutama dalam hal pengembangan dialog dan pantun. Tidak hanya itu, dia sedikit banyak juga harus mengerti tentang peralatan alat musik yang digunakan. Disinilah sutrada dituntut untuk menampilkan yang terbaik. Sehingga penonton tidak merasa bosan dengan alur ceritanya.
Peran pemerintah untuk melastarikan kesenian tradisonal Kuantan ini memang ada. Terbukti dengan diperlombakannya kesenian ini pada setiap Festival Pacu Jalur di Teluk Kuantan. Disinilah mereka bisa menguji kemampuan kelompoknya untuk menjadi yang terbaik. selain itu pada Festival Budaya melayu (FBM) 1997 di Pekanbaru, randai juga diikutsertakan mewakili kontingen Inderagiri Hulu—sebelum mekar menjadi Kuantan Singngi.

Masyarakat Rantau kuantan sering kali mengadakan hajatan dengan mengundang sebuah kelompok Randai. dengan demikian mereka tidak merasa jenuh dengan latihan saja, mereka juga akan mandapat masukan berupa uang lelah sebagai ucapan terima kasih. pPran masyarakat setempatlah yang sebenarnya paling dominan. sehingga Randai Kuantan tetap melekat dihati masyarakat.

Tinggi la Bukik si Batu Rijal
Tompek Batanam Si Sudu-sudu
Abang Kan Poi Adiak Kan Tinggal
Bajawek Solam Kito dahulu

Itulah sala satu pantun dalam Randai Kuantan yang bercerita tentang Ali Baba dan Fatimah Kayo. Cerita ini mengisahkan perjalanan hidup sepasang suami istri yang hidup di Kampung Kopah Teluk Kuantan.

Saat ini Randai Kuantan masih tetap eksis, malah telah samapai ke manca negara, dan punggawai oleh Fakhri Semekot dan kawan-kawan.




Garobak polai kenek,merupakan suatu karya yang mengembangkan nuansa Melayu Riau terispirasi dari adat khitanan kabupaten kuantan singingi,kecamatan Inuman.



SENI LUKIS MENGGUNAKAN KRAYON



Tradisi Kuantan

Kuantan Singgigi (KuanSing) memiliki satu acara tradisional yang khas, yaitu lomba dayung yang disebut Pacu Jalur. Jalur adalah kayu gelondongan yang dibuat menjadi semacam perahu dayung. Pacu jalur diadakan setiap tahun sekali pada saat ulang tahun Indonesia, Agustus. Panjang jalur sekitar 25 hingga 40 meter, dan mampu menampung 40 orang di setiap perahunya.
Pacu jalur diadakan sejak awal tahun 1900an. Pada awalnya perahu jalur digunakan untuk mengangkut semua hasil bumi penduduk Kuantan Singgigi. Kini, Pacu Jalur menjadi atraksi yang banyak ditunggu-tunggu oleh masyarakat, tidak hanya Kuansing, melainkan Riau pada umumnya. Pacu Jalur merupakan sebuah festival yang paling meriah di Riau.
Tidak hanya kandungan olahraganya saja yang menarik dari Pacu Jalur, namun juga unsur magis di balik lomba ini. Masing-masing perahu memiliki pawang atau dukun perahu yang diyakini lebih besar perannya dalam menentukan kemenangan lomba balap perahu ini. Acara Pacu Jalur ini dimeriahkan juga dengan pementasan kesenian, lagu daerah, tari dan randai Kuantan Singigi.
Lokasi diadakannya Pacu Jalur adalah di Sungai Kuantan atau Teluk Kuantan, atau lebih dikenal dengan nama  Tepian Narosa, Kecamatan Kuantan Tengah. Jaraknya sekitar 150an kilometer dari Pekanbaru. Harga tiket masuknya adalah gratis.
Dalam Pacu Jalur, pesertanya berusia 15 hingga 40 tahun yang terdiri dari tukang kayu,  concrang (komandan), juru mudi, dan onjai. Dalam Pacu Jalur, kita belajar tentang kerjasama, kerjakeras, sportivitas dan kelincahan.





Setiap kali pulang kampung ke Teluk Kuantan untuk liburan maupun bila ada urusan pekerjaan ke Pekanbaru dan menyempatkan pulang ke Teluk Kuantan, saya tidak pernah lupa mencicipi lezatnya gulai siput (dalam bahasa Melayu dialek Kuantan di sebut gulai cipuik).

Siput sawah merupakan bahan baku utama gulai siput. Ukurannya kira-kira seukuran biji kelereng hingga lebih besar sedikit dari kelereng. Di Kabupaten Kuantan Singingi siput biasanya ditangkap di sawah pada musim kering atau saat curah hujan tidak terlalu tinggi. Pada puncak musim hujan saat sawah tergenang banyak air agak sulit untuk menangkap siput.

Siput segar (umumnya dalam keadaan masih hidup) bisa ditemukan di pasar tradisional di Kabupaten Kuantan Singingi, dijajakan oleh ibu-ibu di emperan pasar. Takaran yang digunakan biasanya cupak atau tekong (seukuran kaleng kemasan susu kental manis).

Siput dimasak dengan kuah berbumbu pedas ‘sedang’ dan santan yang tidak terlalu kental. Biasanya siput dimasak bersama salah satu sayur pelengkap (dalam bahasa lokal disebut rampai) seperti kacang panjang, pucuk daun keladi, terung asam, atau pakis (paku). Rasanya? kenyal dan seru. Seru, karena untuk memakannya perlu usaha ekstra. Daging siput disedot (di-slurup) hingga terlepas dari cangkang. Bila makan bersama, suara sedotan membuat suasana makan menjadi ramai oleh suara sedotan yang bersahutan. Agar mudah disedot bagian belakang cangkang dilubangi terlebih dahulu sebelum dimasak.

Bagi kawan blogger yang ingin mencoba makanan ini, saya rekomendasikan untuk tidak mencarinya di rumah makan, setahu saya makanan yang satu ini belum menjadi menu rumah makan. Makanan ini hanyalah menu rumahan keluarga Kuantan. Untuk menikmatinya kita harus mengunjungi keluarga Kuantan. Bila berkunjung ke Kabupaten Kuantan Singingi, anda bisa kontak kawan blogger dari Kuansing Blogger Community, mereka pasti akan dengan senang hati menjamu anda dengan gulai siput.



      Nah sobat ni logo terbaru "Longkan Inuman", logo ini dirancang dengan rancangan yang mengutamakan nuansa melayu. Sobat....mengapa dikatakan logo"Longkan Inuman" bernuansa melayu, hal ini terlihat jelas pada ciri motif yang di gunakan merupakan susunan motif melayu. terlihat pada bagian atas logo menggunakan gaya arsitekture rumah adat Melayu Riau yang menggunakan motif selembayung pada masing-masing sisi dan motif pucuk rebung yang terapit pada bagian tengah arsitektur rumah adat.
Dan pada bagian tengah terdapat tiga lembar daun yang melambangkan kesejukan, dengan warna yang berbeda sesuai jenjang kehidupan yang beranekaragam, tulisan "Longkan Inuman", longkan merupakan bahasa asli dari sebuah desa yang berada di kec.Inuman Kab. Kuantan singingi yang mempunyai arti teras yang berada didepan rumah, namun perbedaan teras rumah dengan longkan ini terletak pada bentuk (teras pada umumnya pada rumah zaman sekarang pada rumah yang berbahan semen, sedangkan longkan pada zaman dahulu pada rumah tiang yang terdapat didepan rumah). 
Kemudian pita yang terdiri dari tiga warna yang juga merupakan warna khas Melayu Riau (Kuning, Merah, Hijau) yang sering kita jumpai pada pajangan barner tatkala kita berkunjung ke kota Pekanbaru-Riau.
Kalau ada salah kami mohon maaf karena masih dalam tahap belajar, kritik dan saran yang membangun  yang ingin saudara/i sampaikan silahkan sampaikan lewat comen blog ini.
                                                                                                                              
                                                                                                            "Wasallam Penulis"  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar